


AUDIO
Siapa saja pasti sedikit banyak pernah mengenal "AUDIO" : baik secara sekilas (on/off saja), penikmat (bisa mengatur fungsi), pemasang (installer) dan memang ada segelintir orang yang mendalaminya secara khusus sehingga mereka mampu untuk membuat Tata Suara Audio di mobil/rumah lebih baik dari orang lain. Memang banyak diantaranya yang Otodidak tetapi mohon dicatat bahwa Hanya Segelintir Orang yang mempelajari Ilmu Audio sekaligus menggunakan Alat "Ukur Speaker".
Nah... pertanyaan anda pasti: Mengapa Speaker Harus Diukur ? Supaya lebih mudah mari kita ambil contoh sebuah sistem audio Mobil dengan membagi kategori Speaker menjadi 3 bagian Utama : Sub-Woofer, Mid-range & Tweeter............Ok
Sub-Woofer:
Umpamakan anda punya sebuah Sub-Woofer Bekas dari gudang.... Speaker ini tidak digunakan sebab menurut Installatur Audio "X" suaranya jelek (bukan Jebol yah) - itu sebabnya anda ganti dengan yang baru. Sekarang kita coba ukur dan misalkan hasilnya seperti dibawah ini:
Dari grafik disamping, kita dapat berkesimpulan bahwa speaker ini tidak jebol dan respon suara-nya cukup stabil, artinya speaker ini masih ada pada range rata-rata. Jika grafik responnya "ajrut- ajrutan" bisa dikatakan bahwa si Speaker tidak bagus suaranya, lebih baik pensiunkan. Jadi menurut anda: Apakah Logis Jika "Sang Installatur" Mampu Menentukan Baik & Buruk Sebuah Speaker Dari Suaranya "Tok"? Kalau jawabannya "IYA".... bisalah dia kita juluki "Mbah DUKUN AUDIO". Kalau jawabannya "TIDAK"... pasti ada kemungkinan lain dibaliknya... seperti Melariskan Dagangan-nya..ha..ha..ha.Lanjut.... Setelah anda berhasil menemukan semua T/S Parameter untuk mengisi Driver Editor, maka secara otomatis kita memasuki bagian yang paling menentukan yaitu Mendesign Box yg Benar & Tepat Guna. Artinya sesuai fungsi, adalah tugas anda untuk bisa membuat Design Boks Yang disesuaikan dengan Kebutuhan/Keinginan si Pemilik Mobil (Bukan versi Si Installatur). Kalau dia ingin Sub ini bersuara Dalam/Rendah, coba buat rancangan kearah Sound Quality (SQ). Tapi kalau dia ingin suaranya Keras, buat rancangan kearah Sound Pressure Level (SPL). Begitu juga kalau si empunya mau yang nanggung, padukan diantara SPL dengan SQ... mari kita lihat gambarnya.
Dari Gambar ini ada 2 versi Design (ada puluhan macam design jika anda mau mencobanya nanti) yang bisa dijadikan acuan untuk membuat Box yang sesuai. Dari data T/S Parameter maka Komputer secara otomatis akan meRekomendasi: Box Ported /Vented. Untuk SQ Design (grafik kuning) dibutuhkan Volume 34,7 liter untuk mencapai nada rendah (-3 dB) di 48 Hz dengan Diameter Pipa 4" (bisa diubah 3", 2,5" dsb) & Panjang 22,62 cm. Begitu juga dengan SPL Design (grafik hijau), box-nya memerlukan Volume 14,3 liter, bertambah keras 4dB (setara penambahan power 135 watt murni), dengan Diameter Pipa 4" & panjang 18,88 cm. Puas.... jangan dulu, untuk sub yang ini dapat juga kita design dengan type Box Band-Pass yang merupakan suatu cikal bakal design dari Speaker Sub BOSE yang terkenal itu (kalau belum tahu, coba kunjungi Toko Home Audio dan dengarkan bunyinya) yang Hanya Mungkin di-Rancang lewat CAD (Computer Aided Design). Hal ini saya ajarkan pada "Training 6 Jam" nanti. Mari kita simpulkan Sub Bekas diatas: Woofer ini masih layak kita pakai dengan mengacu pada Volume Box yang sudah anda design. Kalau ingin bereksperimen, buat beberapa design kemudian dengar hasilnya. Macam jenis suara akan dapat anda hasilkan dan tahu rumus grafiknya sehingga Apapun Merk-nya, Tahanan-nya, Diameter-nya semua Sub Woofer dapat "DIUKUR" dan dibuatkan Design yang terbaik. Logika yang bisa anda pertahankan untuk membuat Sub Woofer tersebut tidak bisa digunakan adalah "FAKTA". Misalnya: Fakta kalau Volumenya terlalu Besar, Fakta kalau Grafiknya Tidak Beraturan, Fakta kalau Pipa Tala-nya terlalu Panjang dan sebagainya. Tunjukkan Hal ini kepada Konsumen, tidak ada hal yang perlu disembunyikan dan anda akan dinilai "Profesional".
Bagaimana...? Lumayan menarik-kah? Mari kita pindah ke Mid Range & Tweeter.
Mid Range & Tweeter:
Hampir sama dengan Sub Woofer, terlebih dahulu kita swap Grafik Respon dari Mid Range & Tweeter.

Dari Hasilnya terlihat bahwa anda harus membuat Jembatan Penghubung (Cross-Over) antara mid range & tweeter dengan menentukan Titik Aman Pemotongan di 1000 Hz (ketetapan kenapa 1000 Hz akan diajarkan pada "training 6 Jam") dimana pada posisi tersebut keduanya mempunyai nilai tahanan yang berbeda dengan Nilai tahanan Standart Pabrikan. Kemudian anda akan dibawa ke pemahaman dari program Cross-Over Pasif Design hanya dengan memasukkan nilai diatas dan biarkan komputer memprosesnya sehingga ....SIM....SALAHBUM,....ABRA- KADABRUK......... keluarlah skema Pasif X-Over beserta Nilai dari Kapasitor & Inductor yang diperlukan. Sampai disini anda sudah selesai..? Oh... belum dong, kalau belum mengetahui cara Membuat Inductor sendiri. Kenapa hanya Inductor..? Karena untuk Kapasitor bisa anda beli ke Toko Komponen Elektronik sebab ada nilai-nya merupakan Standarisasi dari Pabrikan Dunia. Inductor juga bisa pesan/beli disana.....tapi buat apa beli/pesan ke orang kalau bisa bikin sendiri serta sangat murah biayanya. Coba lihat hasil gambar berikut:

Bagaimana? Sudah terserap semua informasi diatas..... Apakah ada yang kurang? Itu Pasti, ini masih sebagian dari materi "Training 6 jam", ibaratkan saja ini sebagai Preview untuk anda yang masih HAUS akan informasi, sebab kondisinya masih di kulit, belum Inti...karena masih ada "Kunci Emas" yang membuat anda merasa Lebih Percaya Diri dibandingkan sebelum mengenal Saya & Alat Ukur SPEAKER DETEKTOR ini. Tidak perduli Back-Ground anda apa, asal punya Minat di Car Audio, Naluri Bisnis, Semangat ber-Kreativitas, Pengetahuan Komputer.....dengan Alat SD + Training dari saya... anda punya kesempatan lebih besar dibandingkan pesaing disekitar toko/tempat anda. Apa sebabnya saya begitu yakin dengan kata Training dalam 6 jam (Gone in 6 hours). Temukan jawabannya di Profile tentang diri saya.
Apa sih hebatnya Ilmu & Alat Deteksi Audio tingkat tinggi ini ?
Bentuk Format sebuah orang hebat di Audio biasanya adalah pengakuan dari orang lain/ customer atau karena juara dalam suatu kontes Audio Besar yang "Fair". Saya sendiri sering membaca liputan majalah/ tabloid yang berhubungan dengan Audio dan melihat bagaimana Para Singa Muda Audio yang mempunyai kemampuan serta ambisi untuk bersaing dengan muka-muka lama atau Jawara Audio. Sebagian dari mereka saya kenali karena memang sebelumnya sudah pernah datang ke "Padepokan Petojo - Roxy" untuk menimba ilmu Audio & membeli alat SD. Cuma sebuah hal yang tidak etis untuk menyebutkan nama mereka satu-persatu dikarenakan apa yang mereka raih adalah sebuah kerja-keras dari apa yang mereka memang sudah cita-citakan jauh sebelumnya dan bukan karena saya.

Dari sekian orang, ada satu yang ingin saya jadikan contoh teladan, karena saya sangat terkesan. Namanya: Arianto /"Alung" pemilik "Techno Soundworks" Jl. Sutrisno 15 D-E, Medan. Sangat berpotensi dalam mencari terobosan dan hal baru di Audio untuk mendapatkan hasil Tata Suara Audio yang paling terbaik di mobil. Karena hubungan kami sangat dekat, saya tahu bahwa orang ini mempunyai kemampuan di atas rata-rata dan dia mempunyai kebiasaan menyeting di luar kebiasaan orang Audio. Alat Speaker-Detector & Ilmu Audio yang pernah saya berikan benar-benar di uji habis-habisan, sehingga jika kami berdiskusi, maka selalu ada hal baru yang kami temukan lewat eksperimen RTA AUDIOCONTROL 3055-nya yang fenomenal. Gigitan Taring & Cakar Alung rupanya memakan korban yang cukup fatal, pada kontes "SQ Rodek Competition Training Institute" di Brastagi - Medan, akhir Juni 2006, yang bikin heboh bukan juara satu dengan trophy "1st Winner SQ" nya, tapi bagaimana dia bisa mengalahkan hasil racikan 2 orang Jawara Audio Paling Beken dari Jakarta; yang seorang adalah pemilik Sekolah Audio dan satunya lagi seorang yang lebih dikenal dengan sebutan "Professor" Audio dimana mereka berdua khusus hadir sebagai "Pembunuh Bayaran"... hhhiiii seremmmm.... Gak cuma sampai di situ, kalau memang persiapannya cukup rencananya Alung akan mengikuti Kontes Audio besar di Kota Lain, untuk membuktikan kalau dia bukan jago kandang. Waspadalah... Waspadalah...
Memang "Menang" atau "Kalah" di suatu Kontes itu perkara biasa saja bukan... tapi hal yang penting yang ingin saya sampaikan lewat media ini adalah Apakah anda tidak ingin mempunyai kesempatan seperti seorang Alung, dimana bisa berpartisipasi dalam Event Audio dan mampu bersaing dengan Instalatur Papan Atas... atau anda masih ingin jadi penonton saja? Coba pikirkan: bagaimana anda berambisi sampai menjadi juara ke 3 aja, itu menandakan bahwa Ilmu Audio anda patut untuk diperhitungkan dan anda cukup mempunyai kemampuan untuk bersaing dengan para Instalatur Audio lain, apalagi kalau sampai seperti Alung yang mampu bersaing dengan "Para Dewa Audio".
Note: Khusus untuk Medan ini saya memberikan perhatian serius baik dalam berupa Support maupun Back-Up Informasi. Bahwa segala peristiwa di atas ditulis berdasarkan apa yang memang dikatakan Alung secara langsung kepada saya, tanpa harus dibumbui. Efek terbesar dari cerita tsb adalah dengan belajarnya Para Raja Audio daerah Medan utk lebih memperdalam Ilmu Audio secara Komputer kepada saya. Untuk Alai (CIS Motor), Ahok (AudioMobile), Aliang (Rodex), Alung (Techno), Asui & Akok (AutoMandiri), Iwan (Motoraise) Chandra, Teddy & Cin (Stations), Johan, Atie & Ating (SS Audio)..... Buat saya, kalian semua adalah Teman & Sahabat yang Terbaik.
Mengenai Modul Belajar Audio Sendiri:
Ini juga salah satu hal baru yang saya dapatkan dari pengalaman selama mengajar hampir 4 tahun. Karena saya bukan "Guru Kolot" yang cuma maunya mengajar secara versi kuno dimana sebuah transformasi ilmu hanya bisa dilakukan melalui kehadiran ( "face to face"), makanya mengingat sekarang ini kuliah aja dapat dilakukan lewat jarak-jauh, maka di audio hal yang sama dapat juga kita lakukan. Tapi.... lagi-lagi terobosan "Pengajaran Sendiri berikut Alat Deteksi Audio" ini tercetus pertama kalinya dari saya, karena bagi Guru Audio lain, hal ini belum dapat diwujudkan.... Jadi Gimana dong ?
Berhubung tingkat Pekerjaan saya sudah Maksimum serta kondisi pengaturan waktu untuk Pekerjaan yang lain sudah Sulit, maka diharapkan kalau Metoda ini bisa membantu meringankan Waktu & Beban Kerja saya. Metoda ini sederhana, sama seperti anda membeli sebuah buku misalnya "Cepat Menguasai Adobe PhotoShop" maka buku ini akan menjadi panduan anda langkah demi langkah untuk menguasai kelebihan sebuah software Adobe Photoshop. Di sinilah anda dituntut untuk bertanggung-jawab sendiri terhadap waktu yang anda pakai, karena masing-masing orang akan mempunyai waktu yang berbeda dalam menyelesaikan "ending" modul audio ini. Untuk masalah yang kurang dipahami, dapat ditanyakan langsung kepada saya via telepon. Maka sebelumnya anda harus mengukur dulu kemampuan diri, kalau sekiranya tidak terlalu paham Komputer, maka ber-partner/ joint dengan orang yang paham komputer. Kalu anda Boss Audio yang super sibuk (tak menentu), coba dong ber-partner sama teknisi anda yang terpandai, jadi dapat saling mengisi kekurangan masing-masing.
Harga dari "Modul Belajar Sendiri" adalah Rp. 3 Juta diluar CPU yang tetap harus disetting di Jakarta. Materi yang diberikan adalah cara menggunakan alat SD dan membuat Crossover Pasif sendiri dengan Komputer. Secara pengalaman ternyata materi X-Over Pasif sangat mudah dan cepat untuk dikuasai tanpa perlu Guru pendamping sehingga resiko kegagalan dapat diminimalisasi. Sementara untuk materi T/S Parameter Boks Design tidak diberikan, karena lebih sulit dan harus dengan bimbingan intensif. Untuk pelajaran T/S ini akan dikumpulkan secara kolektif atau ketika anda membeli paket "On Side Training".
NOTE: "Lebih gampang bagi anda untuk mendalami Ilmu Audio yang Mudah Dipelajari dulu, Maka anda pasti akan lebih percaya kepada saya untuk Ilmu Audio yang Lebih Sulit".
"Modul Belajar Sendiri" ini mempunyai keuntungan yaitu: anda adalah bisa Patungan sama Teman, tidak perlu ninggalin Kerjaan, tidak keluar ongkos Ticket Pesawat & biaya Hotel, dsb. Kalau buat saya sih, pekerjaan ini sebenarnya malah lebih menambah waktu, karena biasanya telepon itu lebih sering berdering untuk konsultasi. Note: Sebelum-nya Modul ini sudah diuji coba dan hasilnya sangat baik". (Rudi Chandra, RCA Audio-Batam: "U'r very talented person, Thank's for helping me....". Tong It, Mobiltronik-Riau: "Thank's to promote my Speaker Detector, I'll support U'r SD always...".)
Hal ini sengaja saya buat untuk memberi kesempatan kepada mereka yang sudah malang-melintang lebih lama dari saya di dunia Audio serta merasa mempunyai Ilmu lebih tinggi untuk menguji apakah selama ini yang mereka dengar tentang saya dan alat Speaker Detector ini: Benar atau Bohong. Karena di dunia Audio ada sebagian anggapan: merupakan hal yang memalukan kalau ketahuan belajar tentang Audio dari orang yang lebih Junior... Tapi kalau boleh ada sedikit revisi: Saya ini Jualan "Alat Deteksi Speaker" yang kebetulan buatan Sendiri, kalau masalah ilmu yang saya berikan itu adalah "Bonus" karena mereka membeli Alat dari saya. Sekarang ini mah amat-sangat mudah untuk meng-Copy atau Nyontek pekerjaan Terbaik mereka yang Senior karena sudah ada Alat Perekam Frequensi & Response Audio secara Akurat sehingga Gak ada yang Gak mungkin kalau Junior gampang bersaingan sama Senior, kalau si Junior punya Ilmu Audio & mengerti cara menggunakan Alat Perekam tsb. Dulu memang ada anggapan kalau mau nyontek Pasif Sang Jawara, beli aja LCR meter... terus cabutin deh komponen X-Over si Jawara, ukur semua nilai Ohm, uFarad, mHenrry-nya... beres, tinggal tiru? Itu mah cara terlalu simple ("encim" gua juga bisa niru pake cara gitu), lagian masa kalau cuma mau tahu kulitnya, anda mesti beli LCR meter misalnya yang termurah & bagus sekitar Rp. 3,5 juta. Level bodoh ini pun dapat dengan mudah diantisipasi oleh si Pembuat dengan membalut Resin pada Pasif-nya. Kalau cara di atas masih digunakan, jelas anda gak akan pernah bersaing sejajar, tapi cuma ngintil (ngekor-red) dibelakang. Yang jelas, Alat Speaker-Detector dapat berfungsi juga sebagai LCR-METER yang akurat (karena saya Kalibrasi dengan komponen Audio yang biasa digunakan untuk Kontes) dan dapat mendeteksi Respons Cutting X-Over Pasif si Jawara, serta hasilnya dapat di "Save". Hebatnya lagi, kalau pun nanti kita mau menggunakan Speaker yang ber-merk lain, karakter X-Over ala si Jawara dapat ditiru dengan Akurasi Tinggi (Adding Grafik To Grafik), sehingga meskipun X-Over itu dia cor dengan Semen "Holcim" sampai komponennya gak keliatan, anda masih bisa "Tiru Habis"... Gila gak, jangan main-main sama nih Alat.
Sekarang kita bahas Alat SD vs Alat Sejenis:
Ada beberapa Alat Ukur Speaker yang sering dipergunakan Audiomania. Dan semua barang tersebut harus diimport sendiri. Untuk itu hanya 2 jenis yang akan saya jadikan gambaran pembanding. Pertama adalah Woofer Tester, sebuah alat tester Speaker dari USA yang pernah saya gunakan. Sistim kerjanya sama dengan Alat SD cuma kalau WT karena program dijalankan dengan DOS, maka dalam membaca sample size sebanyak 20 x per titik (analog), sedangkan alat SD 32.768 x per titik (Digital), bisa dibandingkan ketepatan akurasi hasil Pembacaan. Kemudian WT harus digunakan dalam ruang tertutup untuk menghindari distorsi suara asing (seperti Bajaj, Klakson/ suara Motor melintas), untuk Alat SD tidak perlu. Untuk harga WT sekitar Rp. 5 juta, tetapi selain harus belajar sendiri, sekarang alat "The Woofer Tester" sudah "Tidak Diproduksi Lagi".

Kedua.. yang paling mirip sekali adalah "LMS", di Indonesia alat ini sangat populer apalagi dengan seringnya digunakan untuk mengupas mengenai Grafik Respon speaker, sehingga menjadi acuan saya untuk mencari Alat Ukur yang setaraf dengan LMS ini. Mengenai akurasi antara LMS dan Alat SD, seorang rekan salah seorang Jawara Audio di Pasar Mobil Kemayoran sudah membuktikan bahwa keduanya mempunyai akurasi yang sama meskipun harganya jauh berbeda. Hal ini yang membuat-nya untuk tidak jadi membeli LMS seharga Rp.17 juta-an ( Mr.Hendro from GAE, "So Many Thank's to U"). Note: Hendro adalah termasuk 10 orang pembeli pertama alat saya di awal February 2004 dimana sampai saat ini kami masih sangat berhubungan baik dengan seringnya kami bertemu & berdiskusi. Salah satu kelebihan Hendro adalah pernah mendalami Audio dengan segala perbandingannya kepada lebih dari 5 orang Pakar Audio Indonesia disamping kemampuan finansialnya dalam melengkapi segala macam Alat Ukur / Instrument Audio. Satu masalah besar yang menjadi masukan dari seseorang Pelaku Audio lain yang mengalami kerusakan pada LMS-nya adalah harga yang harus dia bayar untuk mereparasi program yaitu sekitar Rp.5 juta dan itupun harus di kirim ke Luar Negeri. REPOT Kan..
Garis Bawahi: kalau ALAT UKUR AUDIO seperti LMS, Woofer-Tester, Termpro, Clio, dll juga memerlukan investasi CPU/Notebook untuk menampilkan hasil Pengukuran. Kalau anda ingin cara manual, maka Audio Generator + AC Millivolt-meter + Digital Frequency-Counter merupakan cara "3 IN 1" dengan nilai investasi sekitar Rp.10juta, tetapi hasilnya "AGAK MENGECEWAKAN" (sebab cara ini dulu sudah pernah saya Gunakan)
Hal yang Bertolak-Belakang akan anda dapat dari Sekolah/Kursus Audio. Di sana anda akan dicekoki ilmu dasar Audio dengan hitungan Matematika & Fisika yang rumit, Teori & Pembahasan yang bertele-tele yang membuat waktu belajar jadi panjang (antara 12 s/d 30 hari). Belum lagi pameran Alat Ukur canggih yang membuat terkesima karena dibuat ruwet dan susah dimengerti sehingga sampai Botak & Ubanan anda tidak akan mampu u/ mem-Beli & Memfungsikannya. Maka jadilah si guru tersebut "Manusia 1/2 Dewa", sehingga apa yang dia katakan harus menjadi "Dokrin" yang tak boleh dibantah. Parahnya lagi, ada kepentingan khusus hal ini dibuat supaya Merk yang dipegang Sang Dewa adalah Merk Terbaik di Jagad Audio, maka setiap Lulusan diharuskan untuk membawa serta Perangkat Merk tersebut, kalo tidak.... si Pembunuh Bayaran tidak akan mau datang untuk men-Tune Up hasil karya anda agar menang di Kontes Audio.
Jelas bahwa Alat yang saya Gunakan 100% sama dengan yang anda Gunakan. Yang membedakan kita adalah Kreativitas berkarya nyata. Kalau nanti hasil karya anda lebih baik dari saya, ini berarti anda lebih banyak ber-Kreasi, tidak ada yang harus kecewa, sebab Dunia Audio adalah "SENI" YANG TANPA ATURAN DASAR, TANPA SENIORITAS & TANPA BATASAN. Hal yang Paling Utama & Terutama adalah ANDA PUNYA ALAT UKUR SENDIRI & TERLEPAS DARI KETERGANTUNGAN ATAU BAYANG-BAYANG ORANG LAIN, MESKI DIA ADALAH SANG GURU YANG MENGAJARI ANDA MASUK DUNIA AUDIO termasuk juga saya: GINDA.